Sekolah Demokrasi Sanggau
BERANDA
PROFIL
AGENDA
PENGUMUMAN
PUBLIKASI
PESERTA
GALERI
ARTIKEL
TULISAN PESERTA

KONTAK
BUKU TAMU
TAUTAN
:: tulisan peserta

Demokrasi Mulai dari Dalam Keluarga
Zaenuri, SH

Demokrasi adalah pemerintahan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman sederhana tentang demokrasi yang hampir diketahui semua orang. Demokrasi juga adalah bentuk pemerintahan politik dimana kekuasaan pemerintahan berasal dari rakyat, baik secara langsung maupun secara perwakilan.

Demokrasi juga diartikan kebebasan untuk menyampaikan pendapat baik secara lisan atau tulisan, serta persamaan hak didalam hukum dan pemerintahan. Dalam proses implementasinya ternyata sejak dulu pola-pola demokrasi ini sudah tercermin dalam musyawarah kampung maupun dalam rembug desa, guna membahas kepentingan umum masyarakat desa.

Demokrasi dapat dimulai dalam sebuah keluarga sebagai bagian terkecil dari masyarakat, dimana dalam membuat keputusan, seorang kepala keluarga perlu meminta pendapat dari semua anggota keluarga, semua bebas berbicara, tidak ada pengekangan untuk mengeluarkan pendapat, bahkan seorang anak kecil sekalipun juga pendapatnya benar, patut juga dihargai, dengan demikian kita sudah menanamkan nilai-nilai demokrasi dari sejak usia dini.

Di beberapa daerah, seorang anak sudah dibekali kemampuan untuk beragumentasi, bahkan terkadang dalam keluarga terjadi pedebatan antara ayah dan anak. Saya pernah berdiskusi dengan teman dari etnis Batak, sejak kecil kemampuan beragumentasi mereka sudah diasah, dan ini membuat mereka sangat cakap dalam beragumentasi, sehingga tidak mengherankan kalau banyak pengacara terkenal dari etnis Batak seperti Adnan Buyung Nasution dan Ruhut Sitompul.

Selanjutnya pola-pola demokrasi terakomodasi dalam lingkungan RT, seperti musyawarah pemilihan Ketua RT, meskipun RT adalah pekerjaan sukarela, terkadang suksesi kepemimpinannya juga berjalan alot, bahkan teman saya pernah bercerita kalau di lingkungan tempat tinggalnya, pernah pemilihan Ketua RT diulang kembali, karena adanya protes sekelompok warga yang tidak diundang pada saat pemilihan.

Di tingkat desa terutama di Pulau Jawa pemilihan kepala desa merupakan pesta demokrasi cukup meriah, karena setiap kandidat biasanya rela mengeluarkan dana yang besar untuk memenangkan pemilihan kepala desa, bahkan sampai mendatangkan orkes dangdut. Di Kalimantan Barat, persaingan dalam Pilkades ini semakin ketat, semenjak adanya anggaran dana desa (ADD) langsung dikelola oleh pemerintah desa dengan jumlah yang lumayan besar. Ini menjadi magnet yang menarik warga maju dalam pemilihan kepala desa.

Dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa demokrasi sesungguhnya telah tercermin dalam kehidupan masyarakat. Sayangnya selama ini masa Orde Baru kebebasan untuk menyampaikan pendapat, sebagai bagian dari demokrasi sangatlah tertutup. Euforia kebebasan berpendapat mulai terbuka luas sejak era reformasi yang dimulai pada tahun 2008, bahkan banyak bermunculan koran dan tabloid baru, meskipun akhirnya terjadi seleksi alam dan hilang dengan sendirinya. Kita pun sudah melihat bahwa media tidak segan-segan lagi mengritik pemerintah, bahkan DPR semakin memperlihatkan eksistensi sebagai sebuah lembaga pengawas dan pengontrol pemerintah, walaupun terkadang kebablasan. Unjuk rasa menyampaikan pendapat didepan umum pun hampir tiap hari kita lihat di televisi.

Pertanyaannya apakah negara kita benar-benar sudah demokratis, atau hanya demokrasi semu karena euphoria reformasi?

(Buletin Rawai edisi 1)


© 2010-2014 sekolahdemokrasi.elpagar.org
email : sekolahdemokrasi@elpagar.org
Kerjasama antara ELPAGAR, Komunitas Indonesia untuk Demokrasi dan Kemitraan.